BERITA & INFORMASI

Door duisternis tot Licht - Mengenang RA Kartini

(21/4/1879 - 17/9/1904).

Ilustrasi kebersamaan dan silaturahmi
Ilustrasi .

Gelap.

Krn Kartini disuruh ngaji tanpa boleh tahu makna yg dibaca dan dikaji.

 

RA Kartini bahkan sempat curiga, jangan2 para guru ngajinya juga tidak tahu arti ayat2 yg dibaca. Sampai2 dia berujar, "gak apa2 deh tdk jadi orang soleh asalkan jadi orang baik saja."

 

Padahal yg sebenarnya terjadi, para ustad itu, mrk tahu, tapi mrk berhati2, karena saat itu penjajah melarang penterjemahan alQuran.

 

Jangankan di Indonesia, bahkan di Amerika pun kitab milik sang penjajah sendiri yaitu Bible diterbitkan dalam bentuk tipis, namanya Slave Bible alias Bible Budak, terbitan London tahun 1807. Mereka Takut kalau jutaan budak yg diculik dari Afrika dan dijadikan budak dan dikristenkan di Amerika akan berontak jika membaca Bible yg utuh.

 

Jadi bagaimana?

Ayat2 yg mengajarkan persamaan hak, ayat2 bahwa di hadapan Tuhan semua manusia itu sama derajatnya, ayat perjuangan bangsa terjajah, ayat2 hukuman berat unt para penculik, ayat2 hukuman untuk majikan yg tidak bayar upah budak dst, tidak boleh dibaca para budak.

 

Hasilnya, di dalam Slave Bible, Perjanjian Lama dipotong 90 %, Perjanjian Baru tersisa tinggal 50%.

 

Di Indonesia, alQuran tdk mungkin dipotong atau direduksi, menjadi kurang dari 30 juz atau kurang dari 114 Surat, menjadi Quran yg tipis. Hilang se-ayat pun orang Islam bisa protes keras.

 

Yg bisa dilakukan penjajah Belanda, ya melarang penterjemahan Quran supaya ummat Islam tidak berontak dan tetap berada dalam kegelapan

 

Terang.

Setelah Kartini berjumpa kyai Soleh Darat dalam sebuah pengajian di Demak, barulah dia Faham arti Surat AlFatehah yg indah. 

 

"Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna Surat AlFatehah, Surat pertama dan ternyata induk AlQuran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,"

 

"Selama ini Al Fatehah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Namun sejak hari ini ia menjadi terang benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami," ujar Kartini.

 

Kartini kemudian berguru kpd kyai Soleh Darat (sang pelopor penterjemahan Quran ke dlm bahasa Jawa dg huruf pegon. Ini cara cerdik supaya tdk dicurigai penjajah. Yaitu menterjemahkan Quran ke dalam bahasa Jawa, ditulis dg huruf Arab, miring di bawah teks Quran, tapi bunyinya bahasa Jawa. Itulah pegon, yg di Malaysia sekarang dikenal sebagai tulisan Jawi). Dan akhirnya, Kartini dihadiahi Quran dg terjemahan, yg baru sampai Juz 13, yaitu dari Surat Alfatehah sampai Surat Ibrahim.

 

Tahukah anda apa arti ayat pertama Surat Ibrahim ?

 

"AlifLamRa. Inilah kitab yg Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari berbagai kegelapan kepada cahaya (minadh-dhulumati Ilan Nur - door duisternis tot licht) dengan izin Tuhan mereka, yaitu menuju jalan Tuhan yg Maha Perkasa lagi Maha Terpuji."

 

Kegelapan itu beraneka ragam, Quran menggunakan kata dhulumati (plurar) bukan dhulmatun (singular).  Cahaya kebenaran Tuhan itu hanya satu, Quran menggunakan kata Nur (singular), bukan Anwar (plurar).

 

Dari Surat pertama AlFatehah sampai  Surat ke 14, Ibrahim, paling tidak Kartini telah menjumpai frasa "Door duisternis tot Licht" (minadhulumati ila nur) 3 kali, yaitu di dalam  Surat AlBaqarah 257 dan Surat Ibrahim ayat 1 dan 5. Frasa yg belakangan oleh Armin Pane (1938) diterjemahkan menjadi "Habis gelap terbitlah terang" ini muncul at least 23 kali dalam seluruh AlQuran.

 

Tidak mengherankan jika setelah mengaji kpd Kyai Soleh Darat, bunyi surat-surat Kartini kepada teman2 pena-nya di Belanda tidak lagi menyuarakan kegelapan.

 

"Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar2 yg terbaik tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yg sama sekali tidak patut disebut peradaban.

 

Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid2 kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan" (Surat unt Ny. Abendanon, 27/10/1902).

 

"Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yg selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama yg disukai." (Surat kpd Ny. Van Kol, 21/7/1902).

 

Dan terakhir, dalam suratnya kpd Abendanon, tg 1/8/1903, setahun sebelum beliau wafat pd 17/9/1904, beliau menulis:

 

"Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah."

 

Jadi, mari kita kenang RA Kartini dan kita penuhi harapan beliau sebagai Abdi Allah, Abdillahh.

 

Bukan "sekedar" sbg pejuang emansipasi wanita.

 

Bogor, 21/4/2026

Abba AK

"Persaudaraan tidak berhenti pada kenangan masa lalu, tetapi tumbuh melalui kepedulian dan kebersamaan yang terus dijaga."
TENTANG PENULIS

Redaksi GENKSI

Menyajikan informasi, dokumentasi kegiatan, dan cerita inspiratif dari keluarga besar GENKSI.